Mental The Daddies di Balik Layar Gelar All England

Saya berangkat hari Sabtu (2/3). Tak ada hal yang istimewa, semua biasa saja. Sama sekali saya tidak merasa ada perasaan mau juara. Sebelum berangkat, saya main sama anak-anak di rumah. Dari pagi sampai sore di rumah karena pesawat baru berangkat malam.

Tiba di Inggris Minggu pukul 10 pagi saya, Mohammad Ahsan, dan Tommy Sugiarto menuju apartemen. Sebagai pemain yang berangkat dengan biaya sendiri, tentu kami juga sudah menyusun budget dan hotel resmi pasti lebih mahal. Karena itu kami pilih apartemen.

Sebagai pemain di luar pelatnas, maka saya harus menghitung tiket, hotel, pesawat, hingga taksi. Saya menyusun rencana itu sendiri dan tidak merasa kerepotan. Sedangkan untuk uang makan saya dan Ahsan sendiri-sendiri dari kantong pribadi, bukan dari dana sponsor.

Main hari pertama melawan ganda Inggris, Marcus Ellis/Chris Langridge, permainan kami masih tidak enak. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena persiapan pas-pasan, hanya seminggu habis Superliga. Target kami adalah semifinal.

Babak kedua kami bertemu Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov. Meski menang dua gim, namun poin ketat. Setiap bertemu ganda Rusia selalu begitu dari dulu. Kami harus punya fokus bagus.

Di perempat final ada kejutan. Di atas kertas harusnya kami bertemu ganda China, namun ternyata He Jiting/Tan Qiang kalah dari ganda Jerman. Hal itu justru membuat kami takut, karena mereka pasti sudah percaya diri.

Dalam turnamen seperti All England kami sudah tahu kebiasaan masing-masing. Pagi jelang pertandingan, biasanya kami nonton video pertandingan lawan lebih dulu. Di perempat final kami sudah mulai enak mainnya, namun belum berpikir juara.

Saat di semifinal permainan kami sudah sesuai keinginan namun kemudian ada masalah. Saat kedudukan 17-17, tiba-tiba kaki saya terasa sakit saat mendarat usai melompat dan melakukan smes. Tapi saya tidak langsung ngomong ke Ahsan karena saya berpikir nanti juga hilang, tapi ternyata tidak. Saat interval, saya minta waktu sebentar. Mau minta disemprot dulu.

Di gim kedua, saya lebih banyak main di depan, Ahsan di belakang. Cuma kemudian Jepang ubah strategi tetapi lokasi mereka mengangkat shuttlecock di situ-situ saja sehingga saya tidak perlu lari. Rasa sakit terus terasa di sepanjang gim kedua.

Setelah lolos ke final, pikiran saya adalah pokoknya kaki ini dirawat dulu ke dokter dan fisioterapi. Pagi hari jelang final, kaki masih terasa sakit, namun berkurang. Bila sebelumnya rasa sakit itu 90 persen, maka hari jelang final 70 persen.

Ahsan sempat bertanya tentang kondisi kaki saya. ‘Enakan apa enggak?’, begitu katanya. Kalau saya pikir ini bukan cedera yang benar-benar serius. Saya pernah cedera lutut di Asian Games 2010, jadi saya pikir, saat final All England saya masih bisa.
Saat pertandingan final lawan Aaron Chia/Soh Wooi Yik dimulai permainan saya belum enak di gim pertama. Masih takut-takut. Setelah gim kedua, saya coba berani mempercepat permainan. Koh Herry IP selalu bilang ‘Coba lagi, masih bisa, coba terus.’

Setelah menang di gim kedua, saya pikir sudah tanggung, jadi habis-habisan di gim ketiga. Mereka tertekan dan tidak bisa balik lagi karena memang sulit untuk bangkit jika dalam kondisi tertekan. Namun jika mereka bisa bangkit lagi, maka bahaya juga buat kami.

Saya berteriak usai menang, karena ada banyak hal yang membuat saya gembira. Kami sudah tidak menang gelar bergengsi sejak 2015, umur juga sudah 34 tahun. Saya masih bisa juara jadi saya senang. Setelah selesai, saya langsung duduk. Capek. Mau bergerak bagaimanapun, kaki terasa cenut-cenut. Saat Ahsan duduk di sebelah saya, dia berkata tidak menyangka bisa juara lagi.

Usai menang di All England 2019 saya langsung menghubungi istri dan orang tua, mereka memberikan ucapan selamat dan senang. Medali kemenangan itu juga jadi hadiah ulang tahun untuk istri saya. Saya tidak berani menjanjikan medali juara pas berangkat. Istri saya meminta, tetapi saya jawab ‘iya, iya’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *